Kamis, 26 Januari 2017

Akankah KetakutanKu mengalahkan Kekuatan Kalian ?

Hari dimana diriku mengunjungi sebuah warkop yang dekat dengan tempat yang Ku tinggali kini. Aku kaget, bahkan sampai mengerutkan kening mendengar sebuah iklan disalah satu acara TV Nasional. Bagaimana tidak kawan ? sebuah lagu dengan alunan nada China, seakan itu lagu China dengan menggunakan bahasa Indonesia. Diriku kasihan melihat situasi kini. Takut dengan masalah di Negeriku.

Dahulu, mereka memperjuangkan dengan segala kekuatan bahkan rela mengorbankan Nyawa demi menyelamatkan sejengkal lahan yang ingin direbut oleh para penjajah. Namun sekarang, dengan senangnya kita menikmati penjajahan yang mereka lakukan. Alunan bahasa Indonesia mulai di China kan, kawan.

Mereka (dahulu) memperjuang lagu Rasa Sayangnge yang hampir diklaim oleh Negara Tetangga, bahwa itu adalah milik kita. Apakah kita dapat memperjuangkan bahasa Kesatuan dan Bahasa Nasional kita ? Tegakah kita mendengar Bahasa Kesatuan dan Bahasa Nasional kita di China2 kan ? Sungguh, kawan ! Diriku tak Tega. Namun apalah daya, diriku hanyalah seumpama kutu diantara jerami yang mungkin akan dibakar.

Bahasa Persatuan Kita, tertuang dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Untaian kalimat yang membakar semangatKu sebagai pemuda Indonesia. Yang kini mungkin harus Ku urungkan karena yang tampil adalah mereka yang datang menempati rumah kita. Mereka bisa menggunakan segala isi rumah kita, memakan makanan harian kita, tampil sebagai tuan rumah di kediaman kita.

Sungguh kawan, diriku selalu menangis sendiri ketika melihat kepincangan di Nusantara. Negara kecintaanku. Banyak harapan bagi mereka yang tertindas. Jangan sampai kita menindas kembali. Karena kesakitan itu tak tertahankan. Karena Aku yakin, Negara ini punya sesuatu yang lebih banyak dan lebih besar dititipkan oleh sang Pencipta.

Kamis, 30 Juni 2016

Bersedekahlah seperti yang dicontohkan Rasulullah

RASULULLAH SAW adalah sebaik-baiknya teladan bagi kita semua. Dalam setiap episode kehidupannya, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil untuk kita terapkan dalam kehidupan. Dan di antara berbagai episode kehidupan Rasulullah SAW itu, ada satu yang menarik, yaitu tentang salah satu cara beliau memperlakukan orang-orang yang lemah secara ekonomi.

Suatu hari, beliau didatangi seorang lelaki yang pekerjaan utamanya adalah mengemis. Dia tidak pernah berusaha mencari pekerjaan lain. Dari wajahnya, Rasulullah SAW mengetahui orang itu berjiwa pesimistis, lemah, dan tidak memiliki rasa percaya diri. Pakaiannya compang-camping dan kondisinya sangat menyedihkan.

Melihatnya, Rasulullah SAW merasa kasihan. Nabi SAW memberinya beberapa dirham, kemudian menyuruhnya untuk membeli kapak kecil. Nabi sendiri yang akan membuat gagangnya.

Setelah kapak dibeli dan gagangnya selesai dibuat oleh Nabi SAW, beliau menyuruh lelaki itu itu untuk merobohkan semua kelemahan dirinya, membuang kebiasaan meminta-minta, serta menyuntikkan rasa percaya diri, semangat berjuang, kerja keras, dan optimisme ke dalam jiwanya.

Lelaki itu memahami dengan baik maksud dan tujuan Rasulullah SAW memberinya kapak. Rasulullah SAW menyuruhnya pergi ke suatu desa untuk mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya, serta tidak datang menemui Rasulullah SAW sebelum lima belas hari. Dengan begitu dia telah membeli kembali harga dirinya yang telah tergadai dengan kemuliaan, kesucian, dan harapan.

Benar saja. Setelah waktu yang ditentukan, lelaki itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW. Tetapi tidak seperti lelaki lima belas hari yang lalu. Dia datang dengan pakaian yang lebih baik, dengan semangat baru, jiwa baru, bahkan dengan postur tubuh baru. Kerut-merut dahinya sudah hilang. Raut mukanya juga sudah berubah cerah. Kondisinya sudah berubah sama sekali.

Saudaraku, Rasulullah SAW mampu mengubah seorang peminta-minta menjadi seorang pekerja keras dalam waktu lima belas hari. Kisah ini memberi satu pelajaran penting bagi kaum Muslimin yang diberi kelebihan rezeki oleh Allah SWT, bahwa cara bersedekah yang baik adalah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tidak dengan memberi makan yang hanya akan habis dalam waktu beberapa jam, tetapi dengan memberi mereka harapan dan kemampuan yang dengannya mereka akan bisa mencari makan sendiri tanpa harus meminta-minta kepada orang lain.

Ar-Rahman sebagai Mahar Pernikahan

Apa istimewanya surah Ar-Rahman?

     Kenapa bukan surat-surat yang lain yang masih banyak seperti surah An-Nur umpanya atau surat lain yang lebih erat kaitannya dengan moment pernikahan?

     Nah dari beberapa survey yang dilakukan,
Ada beberapa alasan dari para istri aktivis dakwah yang memilih surah Ar-Rahman :

Alasan Pertama

✏Karena surah Ar-Rahman penuh dengan pertanyaan Allah,
"Nikmat manakah lagi yang akan kita dustakan",
Karena pernikahan adalah menyempurnakan separuh Agama dan mungkin masih banyak akhwat yang lebih tua dari kita belum dikaruniakan Allah pendamping maka kita sangat bersyukur akan sebuah pernikahan maka mahar surat Ar-Rahman rasanya sebagai pengingat untuk kita supaya selalu mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak.

Alasan Kedua

✏Karena ingin meringankan calon suami,
Karena kata Rasulullah bahwa sebaik-baik mahar itu yang memudahkan, jadi kayaknya mahar ayat Al-Qur'an lebih afdhol.

Alasan ketiga

✏Ada yang simple tapi lucu…
Terinspirasi dari novelnya kang abik ayat-ayat cinta..

Alasan Keempat

✏Ada yang memang sangat menyukai surah Ar-Rahman yang bercerita tentang bidadari yang di pingit,
Bahkan ada akhwat yang mengatakan dia tidak mau di hargai dengan apapun, baik cincin, uang atau materi apapun sebagai mahar tapi dia akan sangat bahagia kalau dirinya dibeli dengan surah Ar-Rahman,
Subhanallah…

Alasan Kelima

✏Surat Ar-Rahman ayatnya pendek-pendek dan juga diselingi dengan pertanyaan Allah akan nikmat-nikmat-Nya yang mana lagi yang kita dustakan. dan pengulangan kata-kata itu tidak terdapat pada surah yang lain, terdapat sekitar 31x pengulangan kata "fa biayyi ‘alaa irobbikumaa tukadzziban" (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Alasan Keenam

✏Alasan lain yang di terima akhwat fillah adalah akhwat memilih surah Ar-Rahman sebagai mahar untuk memotivasi hafalan Al-Qur'an sang suami,
Karena ada bebrapa akhwat yang kadang membuat target berapa juz minimal hafalan calon pendampingnya,
maka salah satu permintaannya mahar hafalan surah Ar-Rahman.

Alasan Ketujuh

✏Alasan akhwat yang lain karena dalam surah Ar-Rahman Allah memberikan deskripsi tentang Surga dan kenikmatannya, berupa buah-buahan, warna Surga yang hijau juga bidadari yang sangat cantik. Yang katanya memotivasi para calon suami dan istri untuk senantiasa menjalankan roda rumah tangga dengan orientasi akhirat. Yang akhwat terinspirasi menjadi istri terbaik yang menyaingi bidadari Surga. Yang ikhwannya terinspirasi berjihad tiada henti sampai syahid menjemput dan mendapatkan bidadari Surga.

Kamis, 23 Juni 2016

Kisah Penjual Susu

MASIH ingatkah Anda, kisah seorang wanita penjual susu pada masa Khalifah Umar bin Khattab? Kisah yang telah mengalirkan berbagai inspirasi kepada ummat Islam. Kisah yang sangat sarat dengan warna keimanan dan semangat ketakwaan.

Malam hari…
Kota Madinah terlihat sepi dari lalu lalang orang. Hawa musim dingin yang menyayat pori-pori kulit membuat setiap orang enggan untuk keluar rumah. Apalagi sudah lewat tengah malam. Tapi tidak begitu halnya dengan khalifah yang pertama kali diberi gelar ‘Amirul Mukminin’ ini. Amanah ummat yang dibebankan diatas pundaknya justru membuat kedua matanya enggan untuk sekedar terpejam di malam hari. Rakyatku… Rakyatku! Iapun bangkit dan beranjak keluar menyusuri setiap lorong-lorong Madinah, untuk melihat kondisi rakyatnya. Begitulah kebiasaan unik Khalifah Umar bin Khattab dalam menghabiskan sebagian waktu malamnya.

Lama ia berjalan ditemani seorang pembantunya. Rasa lelah mulai menggelayuti tubuhnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia bersandar melepas lelah di sebuah dinding rumah sederhana di sebuah perkampungan di Madinah. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan percakapan antara seorang ibu dengan puterinya, pemilik rumah tersebut.

“Campurkan air pada susu yang mau kita jual, nak!” kata ibu kepada puterinya.

“Bagaimana mungkin aku mencampurnya dengan air, Bu! Bukankah Amirul Mukminin telah melarang para penjual susu untuk melakukan itu?”

“Penjual-penjual susu yang lain juga mencampur susu mereka dengan air. Sudahlah, nak,campur saja! Amirul Mukminin pasti tidak tahu apa yang kita lakukan!”

“Bu, jika Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, maka Tuhan Amirul Mukminin tentu mengetahuinya…”

Umar bin Khattab tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar ungkapan sang anak kepada ibunya. Ungkapan yang sederhana, tapi keluar dari jiwa yang bertakwa, sehingga mengundang air mata orang yang mendengarnya. Air mata takwa, dari jiwa yang takwa, ketika mendengar ungkapan ketakwaan.

Umar bin Khattab gembira mendengar kata-kata itu. Ia bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat subuh, kemudian pulang ke rumah dan memanggil salah satu puteranya, ‘Ashim, lalu memintanya untuk menimba informasi tentang keluarga penjual susu tersebut.

‘Ashim datang menemui Umar bin Khattab, menyampaikan semua informasi tentang perempuan penjual susu dan putrinya. Kemudian Umar menceritakan percakapan antara mereka yang didengarnya tadi pagi menjelang fajar. Ia menyuruh ‘Ashim untuk menikah dengan puteri penjual susu itu.

“Pergilah kepadanya dan nikahilah ia, nak! Aku melihat ia adalah wanita yang diberkahi. Mudah-mudahan suatu saat nanti ia akan melahirkan orang hebat yang akan memimpin Arab!”

Keduanya pun akhirnya menikah dan dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Laila, atau biasa dipanggil dengan Ummu ‘Ashim. Mereka mendidik Laila dengan baik, dalam suasana keluarga yang kental dengan nilai-nilai Islam, sampai ia tumbuh menjadi seorang gadis yang memahami dan mengamalkan Islam dalam hidupnya.

Laila menikah dengan putera khalifah Daulah Umawiyah yang keempat, namanya Abdul Aziz. Dari perkawinannya itulah lahir seorang anak yang nantinya akan memenuhi dunia dengan keadilan. Dialah Umar bin Abdul Aziz.

Ini adalah sebuah kisah perjalanan sejarah yang panjang tentang seorang wanita yang memiliki nilai agung, yaitu muroqobatullah. Yang ada dalam dirinya hanyalah dia selalu tahu bahwa Allah selalu mengawasinya. Ini merupakan pelajaran sangat mahal yang diberikan oleh Umar bin Abdul Aziz sebagai keturunan dari orang-orang yang memiliki nilai muroqobatullah.

Kau Jadikan sebagai apa Orang Tua mu ?



Sebuah kisah dari Tanah Jepang

Dulu pernah ada tradisi membuang orang  yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya, sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya. Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena ibunya telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya, berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya, lalu mematahkannya dan menaburkannya disepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai didalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan hal tersebut kepada Ibunya. Justru, si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata : "Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa, Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah".

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si Anak menangis dengan sangat keras. Kemudian langsung memeluk Ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya, sampai Ibunya meninggal.



Pesan untukmu,,,

'Orang Tua' bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya 'Orang Tua' yang menegrti kita, dan batinnya akan menderita ketika anaknya susah.
'Orang Tua' kita, tidak pernah meninggalkan kita bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepada 'Orang Tua'. Namun 'Orang Tua' akan tetap mengasihi kita.
Mari kita merenungkan, apa yang telah kita berikan untuk orang tua kita ? Nilai berapapun itu pasti dan pasti tidak sebanding dengan pengorbanan Ayah dan Ibu kita. Mulia kan mereka selagi masih hidup dan do'a kan jika telah tiada.

Pengusaha baja / Pemilik PT. Artha Mas Graha Andalan, ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat : "Jadikan Orang Tuamu Raja, maka rezekimu seperti Raja". Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita, bahwa orang hebat dan sukses, yang ia kenal semuanya memperlakukan 'Orang Tua' seprti Raja. Mereka menghormati, melayani dan memprioritaskan 'Orang Tua'nya. Lelaki asal Banyuwangi itu bertutur, "Jangan perlakukan Orang Tua seperti pembantu". Orang tua sudah melahirkan dan membesarkan kita, loh kok masih tega-teganya meminta harta kepada mereka ? padahal kita sudah dewasa. Bila itu yang terjadi, maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu, karena ia meperlakukan 'Orang Tua'nya seperti pembantu.

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, anak-anak yang sukses adalah mereka yang memperlakukan dan melayani 'Orang Tua'nya seperti seorang Kaisar. Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan kurang peduli pada 'Orang Tua'nya.

Tapi juga jangan mendekati 'Orang Tua' hanya untuk mendapatkan hartanya. Mari terus berusaha keras agar kita mampu memperlakukan 'Orang Tua' seperti Raja. Buktikan !!! Jangan hanya ada diangan-angan.

Beruntunglah bagi yang masih memiliki orang tua, masih belum terlambat untuk berbakti, sebelum mereka kembali keridhaan Allah swt.
Uang bisa dicari, ilmu bisa digali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua kita  takkan terulang kembali.

Jumat, 25 Maret 2016

UNTUK PARA AKTIVIS DAKWAH


Kami hanyalah barisan Aktivis Dakwah,
Kami hanyalah orang yang diberikan amanah oleh-Nya, untuk berada di jalan Dakwah.
Kami disini, bukan berarti kami sudah Sholeh,

Kami disini karena kami berusaha menjadi Sholeh,
Kami hanya ingin berjalan dan berjuang dalam Ukhuwah,
Ukhuwah Islamiyyah dalam Jihad Fisabilillah.


Kami hanyalah aktivis Dakwah,
Kami bukan barisan Malaikat yang selalu taat,
Kami juga manusia biasa yang sering berbuat maksiat,
tapi kami selalu mencoba untuk bertobat,
Agar hati kami tak menjadi berkarat.


Kami hanyalah aktivis Dakwah,
Kami juga bisa merasakan fitrah,
Fitrah untuk merasakan si Merah MUda,
kepadanya manusia-manusia biasa.

Maka dari itu, kami membutuhkanmu,
Duhai Sahabat,
Kami masih membutuhkan nasehat darimu,
Kami membutuhkan petuah darimu.


Tegur kami jika hati kami mulai membatu,
Tegur kami jika kami berlimpah salah,
Bantu kami dalam mengembang amanah yang tak mudah ini,
Amanah untuk menegakkan Dinul Islam,
Yang Mulia ini.

Salam Ukhuwah,

#LDK AL-JAMI' Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
#LDF ULIL ALBAAB Fakultas Sains dan Teknologi