Hari dimana diriku mengunjungi sebuah warkop yang dekat dengan tempat yang Ku tinggali kini. Aku kaget, bahkan sampai mengerutkan kening mendengar sebuah iklan disalah satu acara TV Nasional. Bagaimana tidak kawan ? sebuah lagu dengan alunan nada China, seakan itu lagu China dengan menggunakan bahasa Indonesia. Diriku kasihan melihat situasi kini. Takut dengan masalah di Negeriku.
Dahulu, mereka memperjuangkan dengan segala kekuatan bahkan rela mengorbankan Nyawa demi menyelamatkan sejengkal lahan yang ingin direbut oleh para penjajah. Namun sekarang, dengan senangnya kita menikmati penjajahan yang mereka lakukan. Alunan bahasa Indonesia mulai di China kan, kawan.
Mereka (dahulu) memperjuang lagu Rasa Sayangnge yang hampir diklaim oleh Negara Tetangga, bahwa itu adalah milik kita. Apakah kita dapat memperjuangkan bahasa Kesatuan dan Bahasa Nasional kita ? Tegakah kita mendengar Bahasa Kesatuan dan Bahasa Nasional kita di China2 kan ? Sungguh, kawan ! Diriku tak Tega. Namun apalah daya, diriku hanyalah seumpama kutu diantara jerami yang mungkin akan dibakar.
Bahasa Persatuan Kita, tertuang dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Untaian kalimat yang membakar semangatKu sebagai pemuda Indonesia. Yang kini mungkin harus Ku urungkan karena yang tampil adalah mereka yang datang menempati rumah kita. Mereka bisa menggunakan segala isi rumah kita, memakan makanan harian kita, tampil sebagai tuan rumah di kediaman kita.
Sungguh kawan, diriku selalu menangis sendiri ketika melihat kepincangan di Nusantara. Negara kecintaanku. Banyak harapan bagi mereka yang tertindas. Jangan sampai kita menindas kembali. Karena kesakitan itu tak tertahankan. Karena Aku yakin, Negara ini punya sesuatu yang lebih banyak dan lebih besar dititipkan oleh sang Pencipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar